Menikahlah dengan ia yang mencintai kita, Sekalipun kita belum mencintainya

Kadang, keegoisan menjangkiti. Hawa nafsu.
Aku ingin dengan ia yang sholeh / sholehah.
Aku ingin dengan dia yang cantik/ganteng
Aku ingin dengan dia yang kaya
Aku ingin dengan dia yang sempurna
Aku ingin dengan ia yang menyejukkan pandangan.
Aku ingin bersanding dengan si fulan / fulanah yang seperti ini dan seperti itu.

Ya akhi… Ya ukhti… Kenapa kau pasangkan standard yang berlebihan?
Kenapa kau lebih memilih egomu daripada yang telah disyariatkan?
Bukankan menikah itu cukup dengan sepasang pengantin, dengan wali dan saksi?
Jangan mempersuliat dengan syarat a-z.
Sampai kapanpun, antum tidak akan pernah dapatkan yang sesuai dengan keinginan.

Lihat saja diri kita ini, apakah sudah sempurna? Tidak bukan?
Justru kita ini memiliki banyak sekali kekurangan.
Untuk apa kekurangan itu dibuat?
Jelas agar disatukan dengan kelebihan untuk saling melengkapi.

Jangan menjadi pribadi yang egois,
Cukup qana’ah… qana’ah… qana’ah.
Sadarilah… Bahwa tak ada manusia yang sempurna.

Tetaplah bertawakal dalam ikhtiar.
Sekalipun kita belum mencintainya, Menikahlah dengan ia yang mencintai kita.
Maka dengan sendirinya hati ini akan Allah karuniakan rasa cinta dan kasih sayang yang tak terduga.

Mungkin diri ini tak mengenal dirimu
Raga ini tak pernah bertemu
Mungkin telinga ini tak pernah mendengar kabarmu
Kini jarak menjadi benteng kita untuk bersatu
Tapi yakinlahTuhan sudah menuliskan nama kita diskenario-Nya seberapa jauh jarak kita saat ini, pasti bersatu disaat waktu yang sangat indah datang
Wahai jodoh aku rela meninggalkan yg baik demi yang lebih baik, teruslah kita saling mendo’akan meski kita tak pernah tau dirimu atau diriku.

♥ Ketika senyumu tak berbalas…
Allah tlh menghitung manisnya senyumanmu..

♥ Ketika sapaanmu tak terjawab…
Allah tak lupa berapa kata kau ucapkan…

♥ Ketika ajakanmu tak terpenuhi…
lelahmu tak kan tertinggal
senantiasa dcatat malaikat…

♥ Ketika kamu menangisi perihnya perjuangan
Allah tak pernah lalai menghitung berapa titis
air matamu…

♥ Ketika mereka lari meninggalkanmu…
Allah tak kan pernah lupa menemanimu…

Sampai kapan? Apakah sampai ada air mata yang menetes? Hati terluka? Amarah membara? Kebencian mengakar??
Sampai kapan kau memegang pecahan kaca yang entah milik siapa?!! Wahai hati aku mohon janganlah kau berdiri dipinggir harapan nan curam, jangan kau menyelam didasar lautan lisan dan jangan kau berbunga tumbuh lebat sebelum kata sakti teriklar… sudah sudahilah..

Allah tahu apa yang terbaik. Dia mengatur semuanya jadi cukup indah.

Kita hanya perlu yakin dan menanti saat dan ketika itu tiba. Dekatkan diri padaNya. Menangislah memohon ampun di atas dosa-dosa lalu. Semoga Dia permudahkan jalan kebahagiaan kita.

Bersabarlah, Kadangkala, banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari ujian yang kita lalui.

Dengan tertundanya kebahagiaan itu, siapa tahu Allah sedang mengajar kita tentang makna menghargai.

Ya, ketika jodoh telah datang, pastinya kita akan menjadi seorang yang lebih manis dalam bersyukur serta menjadi lebih istimewa.

Dengan tertundanya pertemuan itu, mungkin Allah ingin memberikan yang lebih baik kepada kita.

Dan atau dengan tertundanya jodoh itu, Allah ingin menjadikan kita lebih matang dan lebih bersedia dalam membina keluarga.

Ingatlah, Allah itu sebaik-baik pengatur. Be Positive 🙂

Tak perlu risau menanti.. Karena Yang Maha Pemurah tak pernah ingkar janji. Berbaik sangkalah padaNya

kelak seseorang yang baik akan menemukanmu atas seizin Tuhan-mu.

Aku tak lagi menyebut namamu didoaku
Aku berhenti sejak kau memilih dia
Aku mundur perlahan
Karna dengan sadarku aku mengerti semua keadaan
Sudah kucukupkan perasaan ini
Aku tak mau lagi berlebihan mencintai

Mungkin hanya dia tempatmu bahagia
Mungkin karna dia kau mudah melepaskanku

Aku sudah berusaha menerima semuanya
Aku tak kan menahanmu

Aku berhenti memanggil namamu saat kurindu
Biarlh kusimpan saja rasa ini
Menyimpan pedihnya kehilangan

Ketika dirimu berucap dengan dua wajah, ketika dirimu melepaskan lisan lalu tak kau genggam. Ia pasti tau dan paham. Dirimu memohon maaf sebanyak air disamudra pasti ia akan maafkan, tapi ingat gedung kepercayaan tak lagi kokoh. Jujur memang amatlah pahit namun kebenaran dalam naungan kebohongan amatlah sakit.. Ia takan membiarkan api dalam jiwa membara meski dirimu mengulangi hal yang sama..

Ketika dirimu melepaskan lisan lalu tak kau genggam. Ia takan membiarkan api dalam jiwa membara meski dirimu mengulangi hal yang sama. Kau memohon maaf sebanyak air disamudra, pasti ia akan maafkan, tapi ingat gedung kepercayaan tak lagi kokoh karna sebelumnya telah kau hancurkan.

Kata ini mungkin hanya sebuah simbol yang tak mewakili semua rasa
Kini aku berhenti, yaa aku berhenti
Berhenti nyelipkan namamu didalam doa
Doa dalam sujud ataupun diderasnya air yang jatuh kebumi
Berhenti mengharapkan sgala yg semu
Berhenti memikirkan halmu
Berhenti semua yang berwujud dirimu
Yaa aku memang mempunyai segenggam rasa, mungkin rasa ini lebih dari hubungan slama kita bersama.
Tapi kini ku sadar aku tlah melakukan kesalahan.
Ntah berapa luka yang pernah kau goreskan
Ntah berapa banyak darah yang tercucurkan
Ntah berapa banyak panah kau lepaskan
Taukah dirimu dibalik senyum dan tawaku menyimpan luka yang amat dalam ? Tapi percuma kau takan peduli
Dengan selama ini aku telah menjadi manusia kuat, bersabar dan memaafkan semua yg terjadi
Aku selalu berdoa kepada Tuhan supaya diperlihatkan apa yang dsembunyikan, meski saat melihat kebenaran amatlah pedih
Maafkanlah, bukan inginku pergi dalam langkahmu tapi semua prilakumu adalah simbol bahwa aku tak berharga dihidupmu

Dirimu yang sudah tertulis bersamaku sejak 50.000 tahun yang lalu,  ntah siapa dan dimana dirimu, aku hanya menyimpan rindu dan berusaha memantas diri untuk berada disampinmu…